Tradisi dan Syariat Menuju Islam Kaffah

BUDAYA SAINS PERLU DIKEMBANGKAN

 

 

Awal kemunculan dan perkembangan sains di dunia Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah ekspansi Islam itu sendiri. Dalam tempo sekitar 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632 M), kaum Muslim telah menaklukkan seluruh jazirah Arab. Ekspansi dakwah yang diistilahkan ‘pembukaan negeri-negeri’ itu berlangsung pesat. Perkembangan sains dan teknologi yang terjadi sekarang ini, merupakan sumbangan besar para ilmuwan Muslim yang diadabtasikan dan ditransformasikan oleh orang-orang Eropa kemudian dengan kelicikannya diakui sebagai karya besar mereka. Akan tetapi sejarah berkata lain di sa’at-sa’at orang Eropa berhasil meraih puncak kemajuan, justru di sa’at itulah ummat Islam tertidur dalam kemandekan. Padahal Islam sebagai suatu sistem ajaran sangat layak untuk mendominasi pola pemikiran dunia. Ummat Islam yang pernah jaya dalam sains dan teknologi untuk sa’at ini harus mengkaji kembali kekuatan mereka yang mereka genggam erat selama delapan abad. Masa yang penguasaan penuh terhadap sains dan teknologi ini akhirnya dilindas penyerangan brutal dan besar-besaran oleh Hulaghu Khan dan kolonialisme Barat. Hal ini berdampak buruk berupa eksploitasi kekayaan alam, marginalisasi ekonomi, kelumpuhan institusi politik dan pencabutan akar-akar budaya serta tradisi yang menjadi kemandirian ummat Islam saat ini.

Salah seorang ilmuwan yang ikut hijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika ibnu Taimiyah umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka. Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighotsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah SWT. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

Pada masa itu dunia diliputi kecemasan, hal itu membuat rasa aman dan ketenangan para ilmuwan terusik, sehingga sulit untuk mengembangkan pengetahuannya. Dihadapkan pada situasi sulit seperti ini, salah seorang ilmuwan muslim at-Tusi yang lahir pada hari Ahad 18 Februari 1201 M bertepatan dengan tanggal 13 Jumadil Awwal 597 H, tetap belajar dengan segala keterbatasan yang  dihadapinya. Ketika Beliau menginjak usia 13 tahun al-Tusi hijroh ke kota Nishapur untuk melanjutkan pelajaannya dan menyelesaikan pendidikannya dalam bidang filsafat, kedokteran dan matematika.

Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol yang brutal telah mencapai kota kelahiran Tusi dan kota Tus kota tempat menyelesaikan pelajarannya. Ketika situasi keamanan tidak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin Abdulrahim mengajak sang ilmuwan untuk bergabung, al-Tusi pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah.

Selama mengabdi di Istana itu, ia mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika serta astronomi.  Pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan akhirnya menguasai istana Alamut dan meluluh lantakkannya. Nyawa al-Tusi selamat, karena Hulagu Khan ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Hulagu Khan yang dikenal sangat bengis dan kejam memperlakukannya dengan hormat. Dia pun diangkat Hulagu Khan menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, al-Tusi belum mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolitan intelektual dunia, Baghdad pada tahun 1258. Terlebih saat itu dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Kholifah Al Mu’tashim Billah, yang memerintah tahun 640-656 H/1242-1258 M  yang lemah karena adanya konspirasi Menterinya  dengan bangsa Mongol.

Merosotnya pamor daulah Abbasiyaah yang dahulunya memegang puncak kejayaan peradaban ummat Islam,  tidak terlepas dari kema’siatan  dan kemungkaran yang merajalela di berbagai sudut negeri. Baghdad kota peradaban yang dahulunya melahirkan para ulama, cendekiawan dan mujahid, dilanda berbagai penyimpangan moral. Beberapa penguasa terakhir dari daullah Abbasiyah dikenal gemar minum khamr. Seringkali istana-istana kholifah diubah menjadi bar-bar tempat berpesta minum-minuman keras dan mendengarkan musik dan nyanyi-nyanyian. Tempat-tempat plesiran tersebar di berbagai penjuru negeri. Kaum pria dan pemuda sibuk dengan perbuatan ma’siat dan sia-sia. Akhirnya Alloh SWT menimpakan adzab kepada mereka dengan masuknya tentara Mongol yang meluluhlantakkan kota Baghdad. Ketika tentara Mongol tengah melancarkan serangannya ke gerbang kota-kota Baghdad, sang penguasa waktu itu malah asyik menikmati tarian budak perempuan bernama Arofah, tanpa merasakan sedikittpun tanggungjawab terhadap pemerintahannya. Akhirnya pada hari Rabu 4 Shofar 665 H bertepatan dengan tanggal 3 Nopember 1266 M keluarlah sang penguasa dari kota Baghdad  bersama dengan para pembesar kerajaan untuk menyerahkan diri. Runtuhnya Baghdad (ibukota daulah Abbasiah) di tangan bangsa Mongol tidak terlepas dari pengkhianatan yang dilakukan oleh al-wazir Umayyiduddien Muhammad bin al-Alqami ar-tafidhi seorang Syiah Rafidhah yang amat dendam terhadap ahlu sunnah.

Dia menjabat wazir (Perdana Menteri) bagi Khalifah al-Musta’shim billah, khalifah terakhir bani Abbas di Iraq. Hulaku Khan, cucunya Jenggis Khan mengepung Baghdad dengan seluruh bala tentaranya yang berjumlah kurang lebih 200.000 tentara. Mereka mengepung istana Khalifah dan menghujaninya dengan anak panah dari segala arah, hingga menewaskan seorang budak wanita yang sedang bermain di hadapan Khalifah untuk menghiburnya. Budak wanita tersebut adalah seorang selir bernama Arofah. Sebilah anak panah datang dari jendela menembus tubuhnya pada sa’at is menari di hadapan Khalifah maka cemaslah Khalifah dan amat terkeiut. Pada anak panah yang menewaskan selirnya itu, mereka dapati tulisan: “Jika Allah menghendaki melaksanakan Qadha dan takdimya, maka dia akan melenyapkan akal orang yang berakal”

Setelah itu Khalifah memerintahkan agar memperketat keamanan. Perbuatan pengkhianatan Wazir Ibnu al-Alqami yang begitu dendam kepada ahlu sunnah itu, disebabkan pada tahun lalu (655 H) terjadi peperangan hebat antara ahlu sunnah dengan rafidhah yang berakhir dengan direbutnya kota al-Karkh yang merupakan pusat rafidhah dan dijarahlah beberapa rumah sanak famili al-Wazir al-Alqami.  Sebelum terjadinya peristiwa yang amat memilukan ini, Ibnul Alqami secara diam-diam berusaha mengurangi jumlah tentaranya. Dengan cara memecat sejumlah besar tentara dan mencoret nama mereka dari dinas ketentaraan.

Sebelumnya, jumlah tentara pada masa kekhalifahan al-Mustanshir, Khalifah sebelum at-Musta’shim mencapai 100.000 orang. Jumlah ini terus dikurangi oleh Ibnul Alqami hingga menjadi 10.000 orang. Pada masa kekhalifahan at-Musta’shim billah.  Kemudian setelah itu barulah Ibnul Alqami mengirim surat rahasia kepada bangsa Mongol, memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad. Dia terangkan di dalam surat rahasia tersebut kelemahan angkatan bersenjata daulah Abbasiah di Baghdad. Oleh karena itu dengan mudah sekali bangsa Mongol dapat menaklukkan Baghdad.  Semua itu Ibnu) Alqami lakukan untuk membalas dendam kesumatnya dan ambisinya untuk melenyapkan as-sunnah dan memunculkan bid’ah Rafidhah. Tatkala tentara Mongol mengepung benteng Baghdad mulai 12 Muharram 656 H, bertepatan dengan 19 Januari 1258 Miladiyah, mulailah al-Wazir Ibnul Alqami menunjukkan pengkhianatannya yang kedua kali, yaitu dialah orang yang pertama sekali menemui tentara Mongol. Dia keluar dari Baghdad bersama keluarga pembantu dan pengikutnya pada saat-saat genting untuk menemui Hulaghu Khan. Kemudian ia kembali ke Baghdad, lalu membujuk Khalifah agar keluar bersamanya menemui Hulaghu Khan untuk mengadakan perdamaian dengan memberikan setengah hasil devisa negara kepada bangsa Mongol.  Maka berangkatlah Khalifah bersama para Qadhi. Fuqaha’ shufiyah, tokoh-tokoh negara, masyarakat dan petinggi-tinggi daulah dengan 700 kendaraan. Tatkala mereka hampir mendekati markas Hulaghu Khan mereka di tahan oleh tentara Mongol, dan tidak diizinkan menemui Hulaghu Khan, kecuali Khalifah bersama 17 orang saja.  Lalu Khalifahpun menemui Hulaghu Khan bersama 17 orang tersebut. sedangkan yang lain menunggu bersama kendaraan mereka. Sepeninggal Khalifah, sisa rombongan ini dirampok dan dibunuh oleh tentara Mongol.

Selanjutnya Khalifah dihadapkan kepada Hulaghu Khan, dan ditanya macam-macam, tatkala itu Khalifah menjawab dengan suara bergetar ketakutan karena diteror dan ditekan.  Kemudian Khalifah kembali ke Baghdad disertai oleh al-Wazir Ibnul al-Alqami dan Khawajah Nashiruddin ath-Thuusi. Dan di bawah rasa takut dan tertekan, Khalifahpun mengeluarkan emas, perhiasan, permata dan lain-lain dalam jumlah yang amat banyak. Akan tetapi sebelum itu gembong-gembong Rafidhah sudah membisiki Hulaghu Khan agar tidak menerima tawaran perdamaian dari Khalifah. al-Wazir Ibnul Alqami berhasil mempengaruhi Hulaghu Khan, bahwa perdamaian untuk nanti hanya bertahan 1 sampai 2 tahun saja, dan mendorongnya untuk membunuh Khalifah. Tatkala Khalifah kembali dengan membawa barang yang banyak kepada Hulaghu Khan, Hulaghu Khan memerintahkan untuk mengeksekusi Khalifah. Maka pada tanggal 14 Shafar 656 hijriyah bertepatan pada hari Rabu tanggal 19 Pebruari 1258 Miladiyah terbunuhlah Khalifah al-Musta’shim billah. Konon kabarnya yang mengisyaratkan agar membunuh Khalifah adalah al-Wazir Ibnul al-Qami dan al-Maula Nashiruddin ath-Thuusi.  Dan bersamaan dengan tewasnya Khalifah, maka tentara Tartarpun menyerbu Baghdad tanpa perlawanan lagi. Maka rubuhlah Baghdad di tangan bangsa Mongol. Dilaporkan bahwa jumlah yang tewas ketika itu lebih kurang 2 juta orang. Tidak ada yang selamat kecuali ahlu dzimmah (Yahudi dan Nashrani) serta orang-orang yang meminta perlindungan kepada bangsa Mongol, atau yang berlindung di rumah al-Wazir Ibnul Alqami dan para konglomerat yang membagikan harta mereka kepada Mongol dengan jaminan keamanan pribadi. Turut terbunuh juga bersama KhalIfah, dua putra beliau yaitu Abul Abbas Ahmad (25 tahun) dan Abul Fadhl Abdurrahman (23 tahun) dan ustadz istana Khalifah yaitu syeikh Muhyiddin Abdul Faraj Ibnul Jauzi bersama tiga putra beliau yaitu Abdullah, Abdurrahman dan Abdul Karim. Sedang putra terkecil Khalifah yaitu Mubarak ditawan bersama tiga saudara perempuannya yaitu Fathimah, Khadijah dan Maryam. Dikatakan bahwa para gadis yang ditawan tentara Mongol dari istana Khalifah mencapai 1000 orang.

Ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam Kaffah? Segera miliki buku ini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s